031-5036409
pyramida.edutraining@gmail.com

SIMBIOSIS MUTUALISME CATATAN DAN INGATAN


Ada yang pernah dengar kalimat berikut?

“Ikatlah ilmu dengan cara mencatatnya”

Ya, kita sudah pasti familiar dengan kalimat tersebut, bahkan jika kita benar-benar mencatat, kita dengan sendirinya mengingat apa yang sudah kita tuliskan. Mungkin beberapa dari kita ada yang pernah mengalami, mencatat kata kunci dalam satu pembahasan pelajaran, niatnya sih untuk dilihat pada saat ujian, atau kalau di jawa kita mengenalnya dengan istilah “kerpek-an”. Namun, tak disangka dengan cara tersebut kita masih ingat apa yang kita pelajari melalui catatan tanpa harus melihat kertas tersebut.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dalam kegiatan mencatat, kita perlu memahami tulisan atau gagasan dari apa yang kita baca, kemudian dari kata kunci tersebut kita dengan mudah terbantu untuk mengingatnya. Ditambah dengan catatan yang ala kadarnya, tetapi cacatan itu benar-benar kita banget, sesuai dengan cara masing-masing individu, bahkan ketika catatan itu dilihat oleh teman kita, jarang sekali teman kita paham, karena cacatan itu adalah hasil jerih payah pemahaman penulis.

Selama proses mencatat point inti dari sebuah bahasan tersebut, kita secara tidak sadar telah menggunakan daya kreativitas kita dalam menuangkan ide atau gagasan dari pemahaman. Hal ini menunjukkan bahwa, dengan adanya cacatan tersebut kita dengan mudah bisa mengingat.

Kali ini kita akan sedikit sharing tentang mind map dan super memory, kedua materi ini adalah paket dari pelatihan smart learning yang menjadi proram dari Pyramida Edutraning.

Ada yang sudah tau sebelumnya?

Mind map adalah salah satu teknik dalam mencatat dan mengingat, baik digunakan pada saat interaksi antara guru dan peserta didik di kelas, atau ketika kita sedang belajar dari sebuah buku, bahkan akhir-akhir ini beberapa buku menyediakan Peta Konsep dari bab pembahan yang akan dibaca. Mind map memberikan kemudahan bagi kita untuk mencatat point-point penting dari sebuah bahasan.

Caranya gimana?

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mencari gagasan utama dari bahasan yang akan kita pelajari. Kemudian jadikan key word tersebut sebagai inti dari mind map yang akan dibuat. Semisal kita akan membuat mind map dari bahasan benda yang terdiri dari tiga bentuk, kemudian dilanjut dengan ciri-ciri dari bentuk benda tersebut.

Oke, sederhananya seperti itu. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mind map tidak hanya bisa digunakan untuk mencatat bahasan dari buku, tetapi juga bisa digunakan untuk merangkum hasil diskusi. Pertama, mulailah membuah gagasan pokok dari diskusi tersebut. Kedua, dilanjut dengan bagian-bagian penjelas, dan didukung dengan uraian. Ketiga, gunakan gambar atau warna sebagai pengikat pembeda dari masing-masing bagian. Hal ini juga sangat membantu dalam proses recall atau pemanggilan kembali informasi yang telah di dapatkan. Berikut merupakan salah satu contoh dari mind mapping dari pembahasan kali ini.

sumber: https://medium.com

 

Selanjutnya, kita akan membahas tentang super memory. Apakah itu? Super Memory merupakan salah satu teknik yang bisa digunakan untuk mengingat. Teknik ini telah terbukti dapat membantu mengoptimalkan daya ingat. Caranya?

Oke, kita mulai. .. .

Tiga kata kunci dari teknik ini adalah asosiasi, imajinasi, dan lokasi. Asosiasi merupakan cara yang bisa digunakan untuk mengingat obyek baik itu benda atau kata melalui proses menghubungkan dengan sesuatu yang mudah diingat. Biasanya, kita akan mudah mengingat hal-hal yang lucu, unik, dan penting. Masih ingat teman atau kejadian di sekolah dasar yang paling lucu? Atau moment unik yang pernah terjadi di masa lampau?. Ya, kita masih tetap bisa mengingat apa lagi saat bertemu yang bersangkutan atau sekedar reunian.

Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah imajinasi. Bagian ini merupakan inti dari proses super memory karena dengan imajinasi atau gambaran yang sudah ada di benak kita, kita dengan mudah mengingatnya kembali. Misalnya, anda akan lebih mudah ingat gambar apel dari pada tulisannya. Jika dikaitkan dengan asosiasi yang tepat, kita dapat mengingat beberapa kata atau benda sesuai dengan urutannya.

Cara lain yang dapat digunakan dalam teknik ini adalah mengoptimalkan ingatan yang sudah ada terkait dengan lokasi atau tata letak. Penempatan beberapa objek yang ingin diingat pada lokasi-lokasi yang sudah kita kenal akan mempermudah kita untuk memanggil kembali informasi saat kita butuhkan.

Kita coba ya?

Urutkan beberapa hewan berikut beserta urutannya:

  1. Kelelawar
  2. Tikus
  3. Bebek
  4. Babi
  5. Ayam
  6. Beruang
  7. Landak
  8. Musang
  9. Kadal
  10. Kura-kura

Kita mulai, lokasi yang kita kenal adalah mobil, di mana lokasi tersebut memiliki pintu, kaca dengan, lampu, setir, dan lain sebagainya. Sekarang, kita gabungkan beberapa cara yang sudah kita bahas sebelumnya yaitu asosiasi, imajenasi, dan lokasi. Bayangkan cerita berikut benar-benar nayata:

  1. Kelelawar bergantung di kaca mobil
  2. Ada tikus yang mencoba menggigit kelelawar tersebut dari bawah
  3. Kemudian, si bebek melihat tikus tersebut dari depan mobil
  4. Tiba-tiba babi masuk dari pintu driver.
  5. Di kursinya telah ditempati oleh ayam
  6. Keributan mereka mengganggu beruang yang tengah tertidur di kursi belakang
  7. Ditambah kaget dengan adanya landak di bawah kursi
  8. Musang muncul dari candela pintu kanan
  9. Bersamaan dengan kadal yang muncul dari kiri
  10. Akhirnya, kura-kura juga ikut marah karena kenyamanannya di bawah mobil terusik.

 

Bagaimana, apakah kita lebih mudah mengingat dengan cara membayangkan atau berimajinasi dari pada harus mengulang-ulang sepuluh kata secara berurutan. Inilah cara kerja neuron otak yang akan menambah jaringannya dengan cara diasosiasi atau dihubungkan dengan kejadian, serta didukung dengan imajinasi gambar yang seakan nyata. Penggunaan lokasi yang sudah dikenal juga memiliki andil dalam mengikat ingat dengan tempat atau storage yang ada dalam memori otak kita.

 

 

 

Ditulis oleh:

M. Saunan Al Faruq, M.Pd.

Executive Manager Pyramida Edutraining.

 

Daftar Rujukan:

  • DePorter, B. & Hernacki, M. 2015. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
  • Lesmana, Y. 2014. Memorizing Like an Elephant. Jakarta: (KPG) Komunitas Populer Gramdedia.
  • Sumber gambar: https://www.freepik.com: Graphic Resources for Everyone

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *